Saturday, May 21, 2005

MENEGUHKAN PERAN PERSIS

Peran organisasi Persatuan Islam (Persis) dalam upaya mengembangkan pembaruan pemikiran Islam di tanah air telah menjadi fenomena tersendiri. Kehadiran Persis pada saat pengaruh kolonial berusaha memadamkan cahaya Islam, dinilai amat tepat guna menggerakkan kembali syiar agama. Tanggal 12 September 1923 merupakan hari kelahiran Persis yang berawal mula dari kelompok tadarus.
Nama Persis sengaja dipilih untuk mengarahkan ruhul ijtihad dan jihad, dan berusaha mencapai harapan sesuai cita-cita organisasi yakni persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam dan persatuan usaha Islam. Dari sejak itu, kiprah Persis pun senantiasa mewarnai berbagai bidang kehidupan masyarakat. Dan hal tersebut tidak terlepas pula dari peran dan sumbangsih tokoh-tokoh Persis. Salah satunya adalah KH Endang Abdurrahman yang juga mantan Ketua Umum PP Persis. Selama hidupnya, ia dikenal sebagai ulama yang rendah hati serta berwawasan luas.
Di bawah kepemimpinannya, Persis kemudian tampil sebagai organisasi yang low profile, mengedepankan pendekatan persuasif edukatif, dan tanpa kesan keras namun tetap teguh pada prinsip ajaran agama. Ustaz Abdurrahman lahir pada hari Rabu tanggal 12 Juni 1912 di Kampung Pasarean, Desa Bojong Herang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Ayahnya bernama Ghazali yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit pakaian sedangkan ibunya bernama Hafsah, perajin batik. Ulama ini adalah sulung dari 11 bersaudara.
Pendidikan agama diperolehnya sedari kecil. Bahkan pada usia 7-8 tahun, ustaz Abdurrahman telah sanggup menghapal Alquran. Selanjutnya, Abdurrahman muda melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Nahdlatul Ulama al-Ianah, Cianjur selama kurun 1919-1926. Dari sini, kemampuan bahasa Arab-nya menjadi semakin terasah. Atas permintaan Tuan Swarha (Hassan Wiratama), usai menamatkan pendidikan madrasah, Abdurrahman pergi ke Bandung untuk mengajar di Madrasah Nahdlatul Ulama al-Ianah Bandung.
Dua tahun yakni dari 1928-1930 merupakan masa pengabdiannya selaku guru di sana. Membaca buku adalah kegemarannya. Kendati hanya berpendidikan tamatan madrasah, namun ustaz Abdurrahman senantiasa berupa meluaskan ilmu dan wawasannya, khususnya di bidang keagamaan. Ia pun mencoba untuk bisa menguasai bahasa seperti Arab, Inggris dan Belanda. Untuk itu, ia berlangganan banyaak surat kabar. Tak hanya itu. Ustaz Abdurrahman pun gemar membaca dan mempelajari kitab-kitab. Perbendaharaan kitabnya sangat banyak hingga turut membentuk kepribadiannya selaku ulama.
Tercatat, beliau menguasai berbagai bidang keilmuan semisal teologi, syariah, ilmu tafsir, ilmu hadis, fikih, ushul fikih serta ilmu hisab. Kegiatan mengajar masih terus dilakoni ustaz Abdurrahman. Tahun 1930 beliau menerima tanggungjawab mengelola Majelis Pendidikan Diniyah Islam (MPDI) yang didirikan oleh Tuan Alkatiri, seorang kaya di kota Bandung. Saat itu MPDI menyelenggarakan pendidikan agama bagi anak-anak di pagi hari dan orang dewasa malam harinya. Perjumpaan beliau dengan Persis bermula pada waktu ada penyelenggaraan pengajian Persis di Jl Pangeran Sumedang, di bawah bimbingan A Hassan.
Dalam satu kesempatan, A Hassan menyampaikan pembahasan mengenai haramnya tahlilan, talqin, marhaban, dan penyebutan ushalli. Hal tersebut, menurut ulama asal Bangil ini, merupakan perbuatan bidah. Di antara para jamaah pengajian ini terdapat nama Ustaz E Sasmita yang tak lain adalah murid Ustaz Abdurrahman. Segera saja, dia menyampaikan apa yang diperolehnya itu kepada kelompok pengajiannya di madrasah MPDI. Hal ini pun lantas diketahui oleh sang guru yang kontan merasa keberatan dengan pendapat dari A Hassan tadi. Beberapa waktu kemudian, dengan diantar beberapa muridnya, Ustaz Abdurrahman pergi menemui A Hassan.
Terjadilah perdebatan di antara keduanya hingga beberapa malam. Akan tetapi, pada akhirnya Ustaz Abdurrahman bisa menerima dalil-dalil dan argumentasi yang dikemukakan A Hassan. Dari situlah kemudian hubungan keduanya kian akrab. Sampai pada tahun 1934, ia mulai dilibatkan sebagai guru pada Lembaga Pendidikan Islam (Pendis) Persis yang dikelola Mohammad Natsir. Kedekatan Ustad Abdurrahman dengan Persis tidak berkenan di hati Tuan Alkatiri. Dia pun serta merta memberhentikan Ustad Abdurrahman dari tugasnya di MPDI. Namun kejadian ini tidak membuatnya berkecil hati. Justru pada tahun 1940, Ustaz Abdurrahman kembali dipercaya memimpin Pesantren Kecil (bagi anak-anak) milik Persis.
Di bawah bimbingannya, pesantren tersebut terus mengembangkan diri sampai masa pendudukan Jepang. Pada saat revolusi fisik, pesantren Persis pimpinan Ustaz Abdurrahman terpaksa diungsikan ke Gunung Cupu Ciamis. Abdurrahman juga aktif di organisasi jam'iyyah Persis. Mengutip dari buku Yang Dai Yang Politikus, Hayat dan Perjuangan Lima Tokoh Persis, jabatan jam'iyyah yang pertama dipegangnya adalah ketua bidang tabligh dan pendidikan di tahun 1952. Setahun berikutnya pada Muktamar ke-5 Persis di Bandung, Ustaz Abdurrahman terpilih sebagai Sekretaris Umum PP Persis mendampingi KH Mohammad Isa Anshary selaku Ketua Umum.
Tahun 1956, bersama Isa Anshary, Ahmad Hassan, Tamar Jaya, Emzita dan Tamim, beliau menjalankan ibadah haji ke tanah suci Makkah. Pasca Muktamar VII Persis tahun 1962, Ustaz Abdurrahman dipercaya menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Persis. Pada periode kepemimpinan ketiga di organisasi Persis ini, disebut sebagai pewarisan tongkat estafet kepemimpinan kepada kelompok muda yang diwakili KH Abdurrahman, Eman Sar'an, Rusyad Nurdin, dan E Bachrum.
Gejolak serta masalah timbul semasa kepemimpinan KH Abdurrahman, terutama bagaimana mempertahankan eksistensi Persis di tengah gonjang-ganjing sosial politik waktu itu. Di antara sejumlah masalah tersebut yakni pembubaran Partai Masyumi oleh Presiden Soekarno, lepasnya Persis sebagai anggota istimewa Masyumi, dan ancaman pemerintah Orde Lama untuk membubarkan Persis karena dinilai tidak memasukkan Nasakom dalam Qanun Asasi Persis.
Dalam aktivitas keorganisasian, di bawah pimpinan KH Abdurrahman sejak 1962 hingga 1983, Persis menekankan kegiatan pada bidang tabligh dan pendidikan. Ia lebih memilih konsolidasi intern organisasi. Sedangkan dalam konteks pembaharuan Islam, KH Abdurrahman cenderung memperkuat peran, fungsi dan kedudukan Persis sebagai organisasi yang berjuang mengembalikan umat pada Alquran dan hadis melalui pendidikan dini, dakwah maupun tabligh. KH Abdurrahman meninggal dunia tanggal 21 April 1983 di RS Hasan Sadikin Bandung karena penyakit asma.

2 Comments:

Blogger dwainjones48130790 said...

i thought your blog was cool and i think you may like this cool Website. now just Click Here

12:23 AM  
Blogger leanordgonzo1268621112 said...

hey, I just got a free $500.00 Gift Card. you can redeem yours at Abercrombie & Fitch All you have to do to get yours is Click Here to get a $500 free gift card for your backtoschool wardrobe

8:31 AM  

Post a Comment

<< Home